30.12.12

Pemakaman.




Kerudung tergelap kusampirkan di bahuku yang terbalut baju kelabu.
Aku menatap ke bawah sana.
Onggokan jasad sisa kita.
Aku menghadiri pemakaman kita yang mati tercabik dusta.
Sendiri. Karena ternyata, hanya aku yang dengan bodohnya masih peduli.

Inikah sebenar-benarnya yang kau inginkan?

Hantu di sudut kamar.


Ada nafasmu tertinggal disudut kamarku yang berantakan. Bahkan bayangmu yang masih mengumpat di sela-sela lemari. Dari ruang tamu hingga dapur rumahku. Suara altomu masih terekam di gaung udara yang membeku, menggantung dilangit-langit, menembus loteng dan tetap diam di sana sebagi hantu. Hantu masa lalu yang aku rindukan.
Pada setiap detik kehadiranmu di waktu yang lalu. Kenangan yang berdebu menebal di setiap lantai dan dinding. Mulai mengabu, meninggalkan noda-noda berwarna kelabu.
Ciuman-ciuman yang kini mengerak di pinggir-pinggir cangkir kopi yang kau sesap. Aroma pagi yang kini hanya menguar hampa dari tiap bubuk yang ku seduh. Sidik-sidik jari yang tersangkut di gagang cangkir. Sidik jari yang sama dengan yang tertinggal di tiap jengkal tubuhku.
Pelukan-pelukan yang menumpuk teronggok di balik selimutku yang tak pernah rapi. Cerita yang meresap ke dalam seprai yang tak pernah kuganti. Merindukan kamu dan segala hal yang pernah terjadi padaku melalui kamu adalah Hobi.
Segala hal tentangmu pernah ada. Segala kita pernah nyata. Meski sekarang hanya partikel semata yang menyatu dengan oksigen di seputaran dada.
Yang tak kamu sadari, kamu adalah bagian dari oksigen itu sendiri.
Membunuhku perkara mudah, ketika melangkah kamu pergi dan tak menoleh lagi. Kamu renggut semua oksigen dan menyisakan karbondioksida saja.
Aku masih bernafas. Hanya formalitas bahwa aku bernyawa. Padahal hidupku sudah jauh berakhir ketika kamu menyingkir.

Mozaik Dua.

Apa-apa yang terjadi sebelum tahun ini berakhir?
Banyak. Jatuh cinta. Luka. Jatuh hati. Patah lagi. Sibuk bekerja. Rindu-rindu yang kelu.
Ceceran-ceceran aksara. Hikayat-hikayat senja. Bir-bir yang menggenang di perut yang kini membuncit. Liuk-liuk gerakan tari di pesisir sampai pagi. Sadar tidak sadar, perihal salah dan benar. Topeng hidup yang pelan-pelan terkuak. Orang-orang yang datang lalu pergi lagi. Orang-orang yang tinggal lalu mendadak lupa pernah kenal. Tentang nyata. Tentang semu. Cinta pertama yang masih menghantui jiwa. Cinta lama yang dipertemukan Tuhan lagi di persimpangan jalan. Harapan menemukanmu di ujung jalan. Pelukan-pelukan hasrat satu malam. Dekap-dekapan angan. Pautan-pautan bibir. Nasi bungkus tiga di makan berempat. Malam-malam di kejar ombak. Gelas yang satu ke gelas yang lain. Pertemuan tak sengaja. Rasa-rasa yang tak dinyana akan ada. Tahunnya yang berakhir, semua di atas hanya akan menjadi cerita yang sama dengan perubahan di sini dan di sana.

Kaki menghentak, abuku sudah panjang. Jatuh ke lantai. Bakar yang baru.

Mozaik Satu.

Ayolah, tidakkah kau lelah dengan pertanyaan-pertanyaan. Dengan ragu. Dengan bahagia yang mendadak menguap kembali seolah semu. Menghapus jejak-jejak bibirmu di bibirku. Menorehkan luka pada hati yang sedang kembali ranum. Mematahkan asa-asa yang percaya bahwa bahagia masih ada. Kehilangan ciuman-ciuman mesra di kursi belakang. Selinap jemari di balik baju. Curi remas pada pangkal paha. Lekat pinggul tanpa sekat. Tanganmu mampir di pinggulku seolah ini milikmu. Aku bukan manusia yang bisa bersabar menanti untuk sesuatu yang tak berujung tak bertepi. Tapi entah kenapa aku masih ingin ada di dalam apapun permainan konyol ini. Oh bukan, maaf, ini bukan permainan. Ini tentang ketakutan untuk memulai sebuah perjalanan. Padahal, tahukah kamu? Apapun yang kita lakukan sekarang sudah termasuk memulai perjalanan. Tanpa kita sadari, kita telah memulai. Kita telah menapaki ambang saling membahagiakan. Menapaki ambang saling berciuman. Saling tak ingin kehilangan. Saling-saling lainnya. Aku tidak butuh dimiliki. Aku sedang tidak butuh memiliki. Tapi bukan berarti kamu tidak ada di hati. Kamu ada bahkan ia yang menguasai. Aku mulai membutuhkanmu, kamu mulai candu. Aku mulai memerlukan kamu pada setiap hari. Entah sepatah atau dua patah kata. Entah setatap atau dua tatap mata. Sedekap atau dua dekap raga. Sepaut atau dua paut bibir. Sedesau atau dua desau nafas disela bibirmu yang payau. Aku mulai membutuhkan hal-hal remeh itu. Aku mulai mencari hal-hal kecil semacam itu. Aku kerap melontarkan pertanyaan yang sama setiap aku membuka mata, setiap aku memejam di akhir senja. Bahkan ketika bibirmu sedang mampir membuat bibirku sibuk. Bahkan ketika kau renggut dadaku pakai tangan kiri, pertanyaan ini tidak pernah lekang seolah penting. Sungguhkah kamu apa yang aku mau?
Sungguhkah kamu apapun yang menjadi inginku? Siapkah aku terluka lagi denganmu? Kamu adalah pertanyaan-pertanyaan yang tidak akan pernah ada jawaban, tidak akan pernah ada pernyataan. Kamu adalah butiran air mata yang tak ingin aku jatuhkan. Kamu adalah rindu yang aku tahankan. Kamu adalah bayu yang tak kucari. Kamu adalah bayu yang datang sendiri. Kamu adalah laut yang aku damba. Kamu adalah hujan-hujan di kepala. Kamu adalah titian jalan yang diarahkan Tuhan. Kamu adalah pesisir yang ingin ku sambangi. Kamu adalah perih yang dengan rela aku sapih. Kamu adalah desih yang tak membuatku risih. Kamu adalah segala yang bisa semesta tawarkan. Kamu adalah semua rasa yang semesta tahu. Kamu adalah senja yang selalu aku tunggu. Kamu adalah kamu. Kamu adalah yang menumpulkan egoku. Kamu adalah yang mematahkan gengsiku. Aku ini perempuan dengan ego laki-laki, tapi apa? Di hadapanmu aku seolah berteluh menyerahkan diri. Hamba pada kau sang paduka. Segala kata adalah titah tak terbantah. Hikayat tentang luka dalam topeng tawa. Kamu adalah yang sebelumnya aku bilang tak masuk akal!
Ya. Jelas sudah. Kamu adalah kejelasan yang tidak jelas.
Buyar. Rokok kesekian. Aku bubar.

28.12.12

Sedang ada perang.

Jemariku kelu. Seharusnya kalimat awalnya lebih panjang dari dua kata dengan salah satu katanya berimbuhan -ku. Tetapi ya, begitu. Kelu. Entah apa yang terjadi pada kepala dan hati. Seolah terjadi punggung-punggungan perang suami istri. Pada satu ranjang. Tubuhku. Ini tentang pikiran yang berjungkat-jungkit. Main perosotan. Main jungkat-jungkit. Pindah antara kepala-dada-kepala-dada. Menyebalkan rasanya, ingin ku jambak apapun itu. Ku bentak, pelototi kemudian ia akan beringsut pergi. Tapi kan itu hanya seandainya, sebatas metafora. Nyatanya, aku tidak tahu apa yang sedang terjadi. Sekelebat-duakelebat. Letupan dengan suara menyebalkan menggelitik dada. Ini lucu sekali sebenarnya. Aku ingin tertawa sekaligus menghantamkan kepalaku pada sesuatu yang keras hingga apapun itu keluar. Aku butuh egomu saat ini, lumayan, daripada harus cari batu kali.
 
Mungkin ini bukan perihal remeh-temeh soal asa, rasa. Sajak, puisi prosa. Kamu aku kita yang begitu-begitu saja. Tentang cinta-cinta tak terbalas. Tentang hal-hal yang akrab berangsur sirna dan menjadi asing. Bukan. Kurasa ini di luar hal-hal biasa seperti itu.
Aku ini perempuan bersumbu pendek. Dan beberapa kali seseorang menyulutku dengan cerita-cerita tentang dunia. Kisah-kisah tentang terdampar di sini dan di sana. Aku saat ini sedang iri dengan yang kosongnya sudah isi. Sedangkan isiku masih kosong.

Jauh-jauh hingga seberang lautan. Tapi tak ada yang terisi, masih kehampaan. Seolah pencarian-pencarian hanya berakhir dongeng sebelum tidur. Perihal penyelamatan jati diri. Perihal ceceran kata di langit. Pada janji akan pulang dan membawa sedikit kebahagiaan. Sedikit saja jika banyak berlebihan. Sumbu sudah tersulut, sudah sampai dada. Yang sekarang sedang terbakar panas. Gemas.
Sungguh, aku gemas. Ribuan, jutaan. Suara bersahut-sahutan. Ribut tak karuan.
Mengganggu. Mengesalkan.
 
Tapi ini mengenai sesuatu yang harus aku dengarkan. Harus aku kaji lagi. Harus aku pilah lagi. Harus aku pertimbangkan lagi. Harus ini anu itu.
Ah. Hisap tembakau sajalah.
Mengadu pada kepulan asap. Mengadu pada setiap hisap.
Yang ternyata percuma.

Ini perang penting. Dan aku sedang dalam keadaan genting.

24.12.12

Tentang banyak hal.

Entah ada candaan apa lagi yang Tuhan atur di balik pertemuan kita.

Aku pecinta aksara. Dan melaluinya aku mencintaimu.
Aku pun mencintaimu melalui lisan-lisan yang lebih suka ku jadikan tulisan.
Aku lebih suka memagut bibir untuk mengatakan segalanya.
Aku lebih suka remas di pinggang daripada di dada.

Aku tidak pandai berbicara. Aku tak terlalu pandai jua berkata-kata.
Tapi ada kejujuran di sela tulisan-tulisanku. Mengenai kamu mengenai bukan kamu.

Cerita-cerita kisah cinta. Bibir-bibir silih berganti pernah mampir.
Pelukan satu ke pelukan yang lain.
Namun hilang terbawa angin.
 Sesungguhnya jika bisa, aku lelah untuk kembali mencintai dan kehilangan.
Kalau boleh ku ketuk pintu rumah Tuhan kalau ia punya. Aku ingin berpasrah saja pada pilihannya.
Tapi tidak ada hal semacam itu. Dan Tuhan tidak punya alamat.

Kita bertemu, ketika kaki sudah lelah melangkah. Dan tubuh sudah lelah hanya rebah kemudian beranjak lagi.
Aku tidak percaya pertanda, aku tidak percaya kebetulan. Itu hanya ilusi-ilusi yang dijadikan pembenaran.
Jika harus begitu, maka seperti itulah yang Tuhan atur entah darimana.
 
Aku percaya, kamu adalah sebaik-baiknya bukan orang baik. Karena kamu mengakuinya.
Aku pun, ku akui, aku pelaku duka, penikmat luka, pecandu patah hati. Aku perempuan sendu dan aku nikmati segala mendung yang merundung kepalaku. Aku menyakiti, aku melenggang pergi. Aku mencintai, kemudian aku perlahan melepaskan diri. Entah ada berapa orang yang menjadi pecandu patah hati dan mereka tidak sadar diri.
Segala kisah tentang itu selalu bermuara pada, apa sebenarnya yang kamu cari. Sudah.
Kamu tidak akan menemukan orang yang sama dengan sebelumnya di orang yang berikutnya. Tapi kamu terus menerus demikian. Untuk apa membuang waktumu?
Mudah saja, jika kamu hanya butuh teman tidur, kamu bisa pilih siapapun. Urusan ranjang tidak melulu membutuhkan hati. Ia hanya butuh uang, kamar dan selangkangan. Dan kamu pun tidak perlu berpikir apa yang dirasakan teman tidurmu. Bukan urusanmu pun. Yang penting kalian berdua ngangkang dan sama-sama senang. Ya kan?
Tapi ayolah, kita tahu rasanya, bagaimana tak ada pulang ketika raga meretas lelah.
Tak ada rentang pelukan di pintu ketika malam menjelang.
Pun elus dari belakang ketika punggungmu sakit di hantam Ibukota yang kejam.

Kemarin aku merasa sedikitnya hidup kembali.
Karena ciuman-ciuman di pipi. Bicara panjang-panjang kamu dengan teh, aku kopi.
Kenyataan yang membuatku hampir berlari. Menamparimu, menyirammu kopi, kemudian ku tinggal pergi dan melupakan fakta kamu pernah ada di bumi.
Tapi tidak. Nyatanya aku mendengarkanmu seksama, mencerna segala halnya.
Perihal anu itu. Intinya perihal kita.
Aku menjadi seorang yang bukan aku. Kamu ibarat sabda Tuhan yang tidak dapat aku sangkalkan.
Kamu adalah pengacau sistem nalarku. Naluriku mati ketika tatap beradu.
Aku ingat, dulu-dulu, mungkin sebulan lalu. Kamu pernah memberitahuku sesuatu tentang bahagia, tentang kita, tentang suka. Tentang bagaimana nanti akan ada duka, dan akan ada sesumbar di telinga. Kamu tidak mau kehilangan bahagia. Aku pun tidak mau kehilangan kita. Biarlah nanti satu-satunya kehilangan adalah dengan cara yang sekejam terpisah raga, ketika salah satu dari kita lebih dulu tiba di pelukan Sang Ia.
Mungkin karena itu aku tidak berlari. Mungkin karena itu aku tidak meninggalkanmu dan menanggalkan rasa di ceceran langkahku.

Aku mencintaimu dengan segala realita. Dengan nyata. Aku tidak akan menjanjikanmu dunia akan selalu bahagia. Aku tidak akan menjanjikanmu tak akan ada tengkar di antara kita. Tapi, di antara hal-hal itu, maukah kamu jadi ia yang bersamaku menertawakan segalanya? Menjadi yang bersamaku bahwa ketika kita melangkah kemudian badai menerpa adalah tidak apa-apa kemudian kita menari seraya membenahi sisa-sisa di bawah kacau sapuannya?
Jika iya, silahkan raih. Tangan hati semua sudah terulur di tangan kanan. Dan kamu akan merenggutnya dengan tangan kiri seperti malam itu.
Jika tidak, setidaknya aku tahu aku masih bisa mencinta.


Ah, entahlah. Racauan kacau. Tak usah diambil pusing. Aku hanya sakau.

22.12.12

Selamat, aku beruntung jadi anakmu.

Aku mendadak mati kata jika tentang ia.
Ia adalah senyatanya laut yang aku cintai. Pada peluknya adalah pantai yang kerap aku sambangi. Dan dadanya adalah samudera luas untuk aku renangi.

Ibuku keras kepala. Dan kerap aku mengelus dada. Aku tidak luput dari drama Ibu dan Anaknya, bertengkar tentang apa saja. Rebutan laptop, rebutan komputer, colong-colongan korek atau apapun.
Tapi tetap pada lehernya aku surukkan kepala.

Ibuku hebat. Dengan caranya.
Aku tahu badai apa yang mendera Ibu. Aku tahu bandang apa yang menyapu senyum di wajahnya yang kelabu.
Aku tahu beban apa yang ia simpan dibalik tawa dan tebaran senyuman.
Aku tahu ia ingin terlihat kuat dihadapanku.
Bagaimana pun Ibu, aku beruntung lahir dari rahimnya. Mengenal ia yang tak kalah hebat dari Xena.

Ibuku hebat. Ia tetap menganggapku sebagai anaknya meski aku sering membuat nada suara naik beberapa oktaf karena kelakuanku.
Ia tetap memelukku erat ketika aku menubruk dadanya.
Tetap menciumi kemudian menjilat pipi menggodaku.
Tetap yang paling tahu meski tak ku ungkap sepatah kata.
Tetap yang tidak mau kalah perihal korek siapa.
Tetap menjadi teman sekaligus guru paling seru di sela cerita dan hembusan asap rokok berbeda hingga pagi buta.

Ibuku semata semesta.
Ibuku senyata sebanding dengan indah senja.
Jika kamu temukan kehangatan lembayung di dadaku, jelas itu menurun darinya.

Beberapa hari lalu aku tunjukkan padanya, sebuah post tentang ia.
Baru beberapa kalimat, ia meracau tentang ikan-ikan kecil di bawah Header blog-ku. Mengalihkan perhatian, katanya ikannya lucu. Padahal matanya berkaca-kaca, terharu.
Lalu menyesap rokoknya buru-buru.

Aku ingat, suatu pagi. Aku belum terbang kemari. Masih terpisah jarak ribuan kilometer jauhnya.
"Siapa yang nyanyi Bunda di Facebook?"
"Aku, Ma."
"Bagus, Nak."
Lidahku mendadak kelu. Suara ibu terdengar bahagia, seolah suaraku paling indah sedunia.
"Ya, buat mama."
"I miss you."
Aku balas berbisik hal yang sama. Ketika aku kecil, ibuku seorang penyanyi ambang mimpi. Ia menembangkanku durma jawa. Yang hingga kini masih terngiang di telinga. Yang hingga kini masih ku ingat aromanya. Yang hingga kini masih ku peluk lekat di kepala.
Kini giliranku yang bernyanyi untuknya.

Bu, selamat hari Ibu.
Terimakasih, kamu memang musuh terbesarku. Pun aku untuk dirimu. Tapi tanpamu, hidupku jauh dari seru.
You rock, mom. I love you.

20.12.12

Aku ingin..

Aku ingin menjadi ia yang menemanimu terjaga hingga pagi buta. Kau bekerja, aku membaca. Dua kepul cangkir kopi pun bir di antaranya. 
Aku ingin menjadi ia yang kau cari ketika penat sudah menggerogoti otakmu.
Aku ingin menjadi ia yang pertama kau tubruk ketika jabatanmu naik, ataupun proyekmu lolos, atau tulisanmu selesai. Atau apapun itu yang sedang kau raih saat ini tercapai.
Aku ingin menjadi ia yang selalu kau sandarkan kepala ketika kau merasa hidup semakin tak masuk akal dan menerjangmu meraja lela.
Aku ingin menjadi ia yang kau harapkan tangannya melingkar disekelilingmu ketika terlelap. Entah siang, entah sore hari pun ketika fajar tiba.
Aku ingin menjadi ia yang kau ajak tertawa hingga menangis. Menangis hingga tertawa. Menangisi hidup melalui gema tawa.
Aku ingin menjadi ia yang kau bagi segala indah yang semesta punya. Segala hal yang membuatmu ternganga, hasil karya jemari Tuhan yang menyapu indah cakrawala.
Aku ingin menjadi ia yang menampung keluhmu serta segala mimpi. Semuanya.
Aku ingin menjadi pelukan pertama yang kau cari ketika mata terbuka di pagi hari. Dan pelukan yang kau cari ketika senja beranjak malam. Menjadi ia yang pelukannya kau inginkan untuk segala berpulang. Ketika sedih pun senang.
Serumit itu inginku. Sesulit itu nyatanya.
Kau tidak pernah melihatku barang sekedipan mata.
Aku terhalang megahnya dia.

19.12.12

Senja tiba-tiba.


Aku sedang terduduk seorang diri. Di sebuah tempat makan yang baru buka di daerah Selatan Jakarta. Tempat para kekinian bilang gaul, katanya.
Berkonsentrasi dengan bakso nikmat dihadapanku. Lapar. Sejak siang aku mengantuk dan belum makan. Ku putuskan bakso pedas ini menjadi ganjalan. Mata pun perut.
Pukul lima lewat tiga puluh sekian.
Aku tidak peduli dengan langit yang ada di atas kepalaku. Tak ada yang menarik dari langit Ibukota yang mendung berdebu. Tak ada yang bisa di lihat dari gumpalan awan-awan mendung mengabu. Maka tak sekalipun aku tengadah kepalaku, Mangkuk bakso jauh lebih menarik dari itu.
Kepedasan. Aku terlalu banyak menyendok cabai ke dalam mangkuk yang memerah kini. Membuatku merindukan senja di Pantai Pandawa.
Dan ketika kutengadahkan kepala untuk menyeka keringat. Seolah dihadapanku bak surga bersanding khayalan perihal warna layung yang aku rindukan saja.
Tuhan memainkan jemarinya, menarikan molek rona besar-besar di atas langit Jakarta. Gradasi warna semesta. Spektrum Tuhan yang tetap tak bisa membuatku berhenti terpana.
Aku ternganga. Berlari, menuju lantai teratas gedung tiga lantai di tempat ini. Urusan boleh tidak boleh, aku tidak peduli. Bisa di urus nanti.
Tangga demi tangga ku loncati bak menari demi tak ingin tertinggal acara Tuhan yang terjadi setiap hari. Jujur saja aku sudah tak melihat senja berhari-hari dan aku sakau. Tak bisa menitipkan tiap doa di sisipan desau nafas yang tertuju untuk engkau.
Kakiku menjejak di lantai teratas. Aku tak bisa berdusta. Aku mendadak menjadi pendusta paling pandir di hadapan karya Sang Maha Esa.
Aku malu. Ku pikir langit Ibukotaku hanya terselubung debu abu, dusta semu dari para mereka pemimpin Negara yang dielu-elu. Yang digantungi mimpi dan harapan lebih tinggi dari Nirwana ketujuh.
Sungguh aku tidak menyangka, dapat ku temukan sapuan tangan Tuhan sang Mahadaya pada langit rumahku, di Jakarta. Ibukota.

18.12.12

Senja Pukul Lima.

Pukul lima, di jam tangannya. Sudah batang rokok kesekian yang hanya ia bakar kemudian ia diamkan. Begitu terus hingga rokok kesekian. Angin menghisap asap-asap nikotin beracun namun candu itu.
Pukul lima sepuluh, di jam tangannya. Mata menerawang lepas ke labuda di hadapan sana. Memperhatikan ombak-ombak centil gemulai di atas tubuh sang lautan. Seperti perempuan centil yang menggerayangi tubuh sang kekasih.
Pukul lima, dua puluh lima. Ia selalu mengenakan pakaiannya paling kelabu yang itu-itu saja. Pakaian hitam sepekat malam. Gradasi biru sepekat laut. Kali ini ia hisap dalam rokok hingga terhimpit paru kotor dengan asap nikotin. Kemudian dihembuskan perlahan. Seolah asap itulah senyata nafas titipan Ilahi.
Pukul lima, empat puluh. Pelupuk mata terjatuh. Seketika gelap. Ia menatap ke jiwa yang pengap. Pengap dengan semua pertanyaan tentang apa yang ia lakukan seorang diri di pesisir paling tersingkir. Kenapa tidak di rumah saja menatap keluar jendela dan menikmati bercangkir-cangkir kopi getir? Kenapa harus selalu di sini? Seorang diri dan sedang patah hati. Di dekat dua pasangan berlumur madu cinta duniawi. Untuk apa ia patah hati? Punya kekasih saja tidak. Yah, tidak. Tetapi seingatnya, ia pernah punya.
Kekasih yang ia cinta sesering nafas terhela. Seperdetik jantung berdetak. Seorang yang menjadi alasan segala mimpi di ujung hari. Dan tangis rindu di malam sunyi. Poros hidup sebagai matahari dan bumi. Yang kemudian hilang dijerat cinta lain penuh racun manis berbalut ilusi. Sang kekasih tak kuat diri.
Pukul lima, lima puluh lima. Semburat merah muda kebiruan di langit sana mengingatkan pada pipinya sendiri. Pipi memar ditampar oleh kekasihnya ketika mempertahankan agar ia jangan pergi. Tak ada hati luluh seperti kisah roman-roman yang ia baca. Tak ada tangis sesenggukan menyesal. Tak ada pula rengkuh tiba-tiba ketika ia lihat tangis meleleh di dari hulu mata. Tidak ada. Ia tetap pergi. Setelah melayangkan tangan ke tubuhnya. Pukul yang sama, suatu senja di suatu masa.
Pukul enam.
Matahari sudah mati suri. Kuburannya laut lepas. Penggali kuburnya adalah Tuhan sendiri. Iringannya langit dengan lukisan warna paling biadab yang memanjakan mata.
“Sayang, yuk. Matahari sudah terbenam.” Ucap seorang perempuan dengan rambut terurai indah pada pria disebelahnya. Mata bulat besar, mengundang siapa saja yang menatap rela berendam selamanya di dalam sana. Tubuh sintal, seolah Tuhan dan malaikat benar-benar sedang bersuka hati ketika menciptakan perempuan berbalut bikini merah muda pastel ini. Sang pria dengan saying menarik pinggang si perempuan kemudian mengecup bibir di bawah langit senja yang mengabu. Warna-warna Tuhan sudah pudar. Acara senja sudah kelar. Mereka beranjak dari pesisir, menuju rumah mereka di bibir pantai sebelah kiri.
Perempuan berbaju kelabu tak beranjak. Ia menatap, menyaksikan dengan perasaan sama sejak ia tahu dirinya hanya dapat menatap sang pria hanya di kala senja. Ia akan selalu di sini. Dan tak pernah beranjak dari pesisir paling sepi. Tak bisa menikmati saja secangkir kopi getir di beranda rumah. Ia terjebak di antara terbenamnya matahari dan dunia. Yang hanya bisa ia temui saat pemakaman senja. Pemakaman yang sama untuk seonggok raga, ratusan senja lalu. Meski tidak untuk jiwa yang membeku di suatu dimensi waktu.
Perempuan berbaju kelabu memudar, bersamaan ketika senja hanya sisa cerita untuk hari ini. Tetapi ia akan hadir lagi. Di senja yang sama. Pada senja pukul lima. Persis ketika ia dipaksa pergi kekasihnya dari dunia dan dimakamkan pada pukul enam. Tepat ketika senja juga mati.
Perempuan berbaju kelabu, masih mencinta di balik bayang abu-abu senja tak kasat mata. Ia akan selalu kembali pada sang pria kala senja. Dan mati pada pukul enam.

17.12.12

Kita sama-sama tahu.

Perlahan saja.
Tapaki titian bumi yang kian tipis ini.
Susuri jalan kecil berbatu yang kian berdebu.
Jejaki tanah basah yang licin.

Terkilirlah ketika menapak bersama.
Hilang arahlah ketika menyusuri jalan kecil bersama.
Tergelincirlah dan berguling di tanah basah, bermain.
Perlahan saja.

Kepala kita abu-abu. Tatapan kita sendu.
Saling curi jiwa masing-masing dari seberang meja.
Menahan hasrat meretas jarak antara dada.
Curi sentuh dari balik gelas.
Mengulum senyum diam-diam. Saling memaknainya dalam-dalam.

Sebelum ini kamu hanya apa yang kubayangkan.
Sebelum ini kamu tak kurangnya hanya sebuah semu.
Imaji yang kubangun sendiri.
Sebelum ini ragu menghujam hingga nadiku.

Rintik-rintik hujan senja sudah riuh di kepalaku sejak kaki menjajaki kota yang sama.
Semesta menyambutku dengan tangis haru hingga sore menjadi abu-abu.
Aku mencumbu tiap rinai yang mampir di bibirku.
Berharap itu kamu.

Dadaku senja.
Bibirmu senja.
Kamu tahu di mana harus kau pulangkan segala rindu rentangan rasa.
Aku tahu siapa yang harus aku sambut segala asa buncahan dada.




Kita sama-sama tahu.

16.12.12

Sajak tiba-tiba

Langkah menjejak di ranah bumi tua
Naung awan menyertai setiap tapak kaki
Sejauh apapun Tuhan menuntunku pergi
Kau yang selalu ingin ku temukan di ujung hari.

Aku hanyalah segelintir manusia yang mengagumimu dari mayapada.
Tak sanggup menjangkaumu yang menebar batas sejauh nirwana.

Jutaan senja telah terlewat sejak kita retak
Entah sudah berapa hujan pula berinai membisikkan kisah kita lirih
Di antara cangkir kopi yang kini hanya seorang diri.

Ceceran aksara kutebar pada langit semesta
Kutitipkan bisik cerita pada telinga sang surya
Isinya tetap sama, pesan rindu pun cinta untuk kamu di sana.



Langit Denpasar hingga Jakarta.
2012.

11.12.12

Atas kamu.


Atas rindu rindu yang merajalela.
Mata yang basah.
Pada labuhan yang tak ada tujuan.
Aku masih mencintai kamu sebesar yang pernah ku lontarkan.
Pada setiap nafas masih ada namamu dalam desahnya.
Pada setiap detak masih ada kenangan tentangmu yang tertancap liar berdentum di dadaku yang lebam.
Bagiku cara mengeja cinta sama dengan cara mengeja namamu.
Bagiku rasa pahit rindu sama seperti getir di bibirmu setelah tenggakan beberapa botol bir.
Kamu ternyata masih jadi yang tak terkalahkan. Meski kita telah berhenti sejalan.
Kamu adalah salah satu kisah cinta tanpa tirai yang akan jatuh tuk mengakhiri segalanya.
Aku masih mendengarkan sederet lagu yang sama. Ketika kita masih bersama. Tak berubah.
Aku pernah mencoba mengabaikanmu. Melupakan apa yang pernah terjadi pada kita.
Pada hatiku dan hidupku.
Kamu adalah segala dusta yang ku bilang lupa.
Dosaku hanya satu. Dan itu terjadi setiap hari. Aku tetap menyangkal bahwa kamu telah lama kubiarkan pergi.
Padahal kenangan tentangmu masih menjadi tahanan paling lama di dalam penjara paling sunyi di sudut hati.

6.12.12

Sang Penari.


Sang penari mengitari bumi.
Tariannya tak usai hingga Tuhan menghendaki.
Pernah mencintai dan terpuruk pula dalam luka hati.
Mengayunkan kaki dan tangannya kesana kemari.

Kakinya yang lemah menjejak tanah.
Kadang terangkat tinggi melompat ke sana dan ke sini.
Tak peduli nyeri di kaki.
Ia suka menari. Sendiri.

Tariannya tanpa musik.
Gerakannya berisik. Seperti burung nakal di atas pucuk pohon Persik.
Tuhan hanya bergidik, bahkan Ia tak berani mengusik.

Gerakannya tak karuan.
Campuran sepi dan tawa dalam sunyi.
Senyum dan bahagia diatas kebohongan.
Ilusi ciptaan ilahi.

Tatapan magis yang mengiris.
Ada sebulir air mata di ujung mata.
Tapi tak juga terjatuh untuk menangis.
Sang penari, bunuh diri dalam ego yang sebesar dunia.


2012

2.12.12

Pernah?

Asap pekat dimana-mana.
Perempuan bertubuh molek. Tak molek. Semua berkumpul disini.
Aku duduk di sebuah sudut di sebelah meja DJ. Memandang ke segala arah.
Kawananku sedang berbincang. Aku hanya menjadi penyimak yang baik.
Ku pandangi sekeliling. Seekor serigala tua dan gadisnya di bar seberang tak jauh dariku.
Dan seorang perempuan berambut panjang dengan rokok yang abunya telah memanjang di sudut lain. Rambutnya berantakan, sikunya bersandar di bar. Menopang pipinya. Entah apa yang ada di pikirannya. Tatapan kami sejenak beradu.

Tempat ini riuh rendah dengan musik. Dan sayup pembicaraan manusia-manusia bumi yang sedang menikmati duniawi.

Mereguk cairan-cairan pahit manis yang mengalir di kerongkongan.
Mungkin sebenarnya mereka tak menyukai rasanya.
Hanya saja rasa itu begitu akrab di lidah mereka.
Begitu akrab di dada mereka.
Begitu akrab di pikiran mereka.

Rasa hidup.

Hidup yang mereka kecap.
Yang berdesir di dalam sana, yang mereka reguk dengan rakus.
Atau hanya menyesap perlahan.

Dentum suara musik yang mengingatkan pada suara degup akrab di nadi dan dada yang menandakan merekalah memang pemilik nyawa.

Dunia yang sejenak katanya.
Bumi yang menua kata para ilmuwan.
Dan mereka. Termasuk aku. Kamu. Kalian.
Adalah peminum.

Peminum sang manis dan pahit yang tak kita sukai.
Tapi tetap kita nikmati.
Pereguk getir dari eliksir semesta.
Penjilat manis sisa nirwana.
Penghisap asap pekat yang selalu ada di setiap sekat masalah yang lewat dalam hidup singkat kita.

Inilah nyata. Inilah fana. Inilah mungkin omong kosong. Inilah seadanya.
Apalah aku?
Gadis kecil yang tersesat di suatu pojok di sisi meja DJ.
Peminum manis dan getir.
Pereguk tawa dan satir
Segala yang hidup tawarkan.

Selamat menikmati, kawan.