24.8.12

one nine o eight


"Ayo."

"Ayo kita sapu."
Aku masih memegang gagang sapu.
Tanpa sebuah kata kau dekap aku dan mencium bibirku. Jangan sayang, jangan pernah kagetkan aku dengan sebuah ciuman karena aku akan meminta lebih banyak ciuman dari yang mampu kamu berikan. Aku melengos malu kamu masih mendekapku.
"Ayo ganti baju."
"Kamu keluar dulu."
"Baiklah."
Lagi, kamu tidak keluar kamar. Kamu tarik aku kedalam dada mu yang bidang bahumu yang lebar. Bisa kurasakan sesuatu mengejang dibawah sana sayang. Bisa kurasakan listrik mengalir dari tubuhmu ketika menyentuh kulitku. Lama. Lumat. Cepat. Lambat. Cepat. Lidah. Melambat. Lepas.
"Kita harus pergi jika tidak mau terlambat."
"Kita tidak akan terlambat kemana-mana."
Ciuman yang lain. Kita berputar di dalam kamar sebelum akhirnya kita merapat ke dinding. Aroma tubuhmu menguarkan bau yang kuat memenuhi indra penciumanku. Bau yang aku suka. Ciuman demi ciuman. Sekali pun tak kau coba remas payudara. Fokusmu hanya menciumku dan lidahmu. Fokusku, ya, ciumanmu dan tegangan dibawah sana.
OH OH Tulisan ini mulai terlalu erotis.
Kita berbagi banyak hal, sayang. Dan aku merasa tidak sendirian lagi, tapi sepertinya waktu Tuhan untuk kita belum saat ini senyaman apapun aku dengan mu. Seingin apapun kamu dengan ku. Tapi aku yakin kamu tidak akan pernah jauh bahkan sejengkal dariku.

20.8.12

Bando Minnie Mouse

Karena ini kisah satu malam
Klimaks ceceran kisah yang tak pernah usai
Belum puncak
Karena mereka tak pernah tiba di kaki sekalipun

Jarak memisahkan mereka
Bertemu dan bercinta dengan orang lain

Kali ini waktunya
Mungkin memang kali ini waktunya
Bagi mereka

Mencoba merajut apa yang tidak pernah selesai
Bahkan belum pernah dimulai


"Mau jadi pacarku?"
"Tidak ada alasan untuk berkata tidak."
 

Tidak ada loncatan, hanya saling tatap
Dari seberang kursi
"Aku pamit. I love you."
"Baru malam ini."
"Tapi jauh sebelum malam ini."
"Aku boleh peluk?"

Aroma debu dan aroma mu
Hidungku penuh
"Aku bau."
"Aku juga."

Tak lama
Kau kecup keningku
Pating greges badanku
"Sudah boleh manggil kamu, sayang?"

14.8.12

Cici Gallagher

Kamu bilang. Aku dangdut. Kamu rock.
Kamu pasti lupa. Selera musikku Versatile. Tapi aku lebih suka Indie, Ambience dan terkadang Electronic.
Tetapi, kenapa harus dangdut yang kamu sebutkan untuk aku? Apa definisi kamu tentang dangdut? Musik murahan kah? Musik dengan lirik mendayu yang terlalu picisan? Gendang yang berbunyi naik turun? Atau identik dengan orang-orang yang terlalu berlebihan dalam menggambarkan sesuatu?
Apa musik rock lebih simple? Tidak neko-neko?
Musik rock tidak berlebihan dalam liriknya? Apakah dalam definisimu rock masih berhubungan dekat dengan karakter yang cuek? "Oh, dia suka rock pasti dia cuek orangnya. Nggak mau ribet, nggak mau pusing dan nggak berlebihan juga." Begitu kah kira-kira?
Aku beri contoh;

"Bawalah diriku oh sayang. Ku ingin selalu bersamamu. Tak sanggup lagi diri ini. Berpisah dengan mu kasih." Itu penggalan lirik lagu Cici Paramida.

"So don't go away, Say what you say. Say that you'll stay. Forever and a day. In the time of my life."
Yang itu Oasis. Kamu pasti tahu.

Dua lirik dari dua aliran musik yang berbeda. Cici Paramida aku. Noel Gallagher kamu. Ayo kita coba bayangkan, lagu Bulan Merindu terngiang di teling kamu, kemudian berganti dengan Don't Go Away. Jangan dengarkan liriknya dulu. Dengar kan musiknya.
Cici Paramida dengan gendang dan alunan sitar samar terdengar. Sedangkan Oasis dengan gitar listrik dengan efek distorsi yang langsung menyapa telinga kamu bersamaan dengan suara drum di intro lagu sebelum masuk suara si Noel. Ya sayang, itu rock dan dangdut. Mereka punya caranya sendiri untuk memasuki pendengaran kita. Cara mereka bertolak belakang. Bahkan bagi sebagian orang mungkin bagaikan langit dan bumi. Aku tidak akan bilang mana yang langit mana yang bumi, biar itu menjadi opini masing masing orang saja. Tapi, dalam kalimat lirik yang aku salin. Apa persamaannya?
Mereka sama-sama mengungkapkan perasaan mereka. Yang satu dengan bahasa yang terlalu merayu. Yang satu dengan bahasa yang kamu kategori kan cuek itu. Aku jelas sih tidak membicarakan makna keseluruhan kedua lagu tersebut. Karena jelas berbeda jauh. Yang satu benar-benar merindu. Yang satu ingin si sosok yang ia inginkan hadir agar ia bisa melihat dengan mata kepalanya bagaimana si sosok hancur. Bukan, tenang, saya tidak mau melihat kamu hancur. Intinya bukan itu.
Intinya, mereka ingin si "Sayang." "-Mu" dalam Bulan Merindu dan si " You" dalam Don't Go Away, tetap bersama mereka. Tidak kemana-mana. Sejujur itu lah rock dan dangdut. Bahkan seluruh lirik yang ada di dunia dalam aliran musik yang berbeda beda.

Bagiku, kalimat kiasan atau pun kalimat dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga adalah kalimat paling jujur yang dilontarkan seorang manusia. Akuilah. Sulit untuk selalu jujur apa adanya terutama jika itu berhubungan dengan diri kita sendiri. Karena itu, kalimat kiasan dan opini melalui sudut pandang orang ketiga yang lebih mudah kita uraikan, padahal itu cerita mengenai kita sendiri. Aku melakukannya. Mungkin kamu tidak.
Mungkin benar kamu rock. Kamu lebih suka apa adanya. Dan aku lebih suka menyelimuti diriku dengan rentetan kata yang berkiasan. Dangdut abis.
Tapi tidakkah pada dasarnya semua sama? Hanya cara penyampaiannya saja yang berbeda? Aku sitar. Kamu gitar. Tapi tidak kah intinya sama? Sama-sama senar?
Ah aku ini bicara apa? Aku melantur kesana kesini. Tidak ada tujuan. Tapi aku juga tidak akan men-close lalu discard tulisan ini. Akan tetap aku publish.
Tapi intinya.. mengerti kan? Terserah kamu bilang prinsipku dangdut dan kamu rock. Yang jelas, aku mencintaimu.

12.8.12

Ia

“Bisa kita bertemu malam ini?”
Hening terdengar di seberang sana. Mungkin ia sedang menimbang jawabannya. Mungkin juga hanya memandangi ujung sepatunya sambil menghisap rokok.
“Kalau tidak bisa, tidak apa.”
Masih hening.
“Maaf, sepertinya aku tidak bisa. Ada yang harus aku kerjakan.”
Ia sudah tahu jawaban ini yang akan Ia berikan. Ia tahu Ia tidak mungkin lagi meluangkan waktu untuk menemui ia hanya berdua. Ia tidak sakit hati. Ia tidak merasakan apa-apa. Bahkan ia tidak kecewa. Yang ia tahu, ia berdusta.
“Baiklah. Maaf sudah mengganggu. Selamat malam.”
Ia matikan sambungan telepon. Hanya tercenung memandangi tiket kereta api ditangan Ia. Tertanggal besok sore. Pemberangkatan ke Yogjakarta. Bukan kesana tujuan Ia. Ke tempat lain. Yogjakarta hanya persinggahan. Ia hanya ingin bertemu dengan Ia, agar Ia punya bekal wajahnya yang paling baru. Karena memori tentang Ia sudah mulai usang di kepalanya. Tetapi sudahlah, Ia sudah memutuskan bahwa Ia sudah tidak bisa bertemu muka dengannya hanya berdua. Pintu itu sudah Ia tutup untuk Ia. Ia terima. Apa daya Ia hanya bisa menuliskan sepucuk surat untuk Ia. Dan akan Ia titipkan pada teman mereka.

Ini bukan surat.
Ini sebuah pelukan. Dekap secarik kertas ini ke dadamu tekan dengan kedua lenganmu.
Ini saya, yang kamu peluk.
Ini bukan surat.
Ini sebuah ciuman. Tekan secarik kertas ini ke bibirmu.
Ini saya, yang kamu cium.
Ketika kamu menatap kertas ini, membaca kalimat yang tertulis tangan di dalamnya.
Adalah saya yang kamu tatap. Adalah saya yang tangannya kamu genggam.
Doakan saya. Mungkin kita akan bertemu lagi di suatu masa.
Atau mungkin kita berpapasan di suatu kota dan tidak menyadarinya.
Ingat satu hal. Sejauh apapun saya melangkah. Dengan siapapun saya berada.
Hati saya masih untuk kamu. Jika kamu lupa. Buka surat ini.

-Saya.

Ia lipat rapi kertas itu. Memasukkannya ke dalam sebuah ID Card. Bukan, bukan amplop. ID Card sebuah acara tempat mereka pertama bertemu. Tempat Ia mengenal Ia dan mencintai Ia. Tempat semua bermula dan tak pernah benar-benar berakhir bagi Ia. Tidak perlu ada yang tahu bagaimana Ia ketika menerima paket terakhir yang Ia berikan. Ia sendiripun tidak mau tahu akan jadi apa surat darinya. Dibakar? Diludahi? Tidak ada yang tahu.
Yang Ia tahu, apa yang telah Ia tulis adalah sebuah kejujuran paling jujur yang pernah Ia lakukan sepanjang hidupnya.



3.8.12





Ada yang menggeliat di dalamku. Meminta untuk direngkuh oleh sentuhanmu. Untuk di hirup olehmu. Aku perlu berbagi dekap. Aku tak peduli akan beralaskan apa kita, yang jelas sesuatu ini terjadi karena kamu. Mari berbagi nafas dari mulut ke mulut. Di sela ciuman lembut. Dibawah selimut.
"Rek kamana neng?"
"Eh, A' Iwan. Rek ka kampus, A'. Aya kuliah tambahan."
"Oh."
"A'a nuju naon?"
"A'a rek ka warung neng, meuli rokok jeung minyak keur Ibu."
"Oh."
Jeda lagi. Percakapan malu-malu yang itu-itu saja. Sudah terlalu sering kami melakukan pembicaraan tak ada pangkal tak ada ujung. Dan kami menikmatinya. Di tepi sungai dekat jembatan yang memisahkan rumah kami, tempat kami biasa berpapasan. Kadang hanya sepatah. Kadang dua patah. Di antara sepatah dua patah yang terasuk hingga tulang ke tubuh desa kami. Tubuh dengan kulit kuning langsat khas sunda kami.
"A' Iwan. Neng indit heula nyak. Sieun mun telat."
Hanya anggukan kecil yang dibalas senyum manis tersipu di wajah indah itu. Wajah yang tidak pernah luruh. Wajah yang selalu muncul di setiap detak jantung dan bilamana mata tertutup. Senyuman paling indah yang pernah Tuhan lukis di wajah seorang wanita.
"Eneng iyatna jalan gede."
"Iya A'. Nuhun."
"Titik!"
Rambutnya tergerai lembut saat menoleh. Terekam dengan indah oleh pantulan air. Terekam indah di otakku.
"Iyatna!"
Tertawa kecil, ia mengangguk.
Kami berjalan berlawanan arah. Tapi sesungguhnya kami tidak kemana-mana. Di sebuah dimensi waktu kami masih di jalanan kecil tepi sungai, masih berbagi pembicaraan sepatah-dua patah yang terasuk hingga tulang ke tubuh desa kami. Masih dengan malu-malu dan percakapan yang itu-itu saja. Tidak berubah. Molekul-molekul air disungai pun tahu apa yang kami rasakan. Kami jatuh cinta. Cinta kami sederhana. Kami hanya perlu bertemu sesekali untuk saling bertukar sepatah-dua patah kata malu-malu. Cinta kami tidak mengenal cemburu. Cinta kami tidak mengenal traktir nonton di Bioskop ataupun pakai uang siapa untuk belanja. Cinta kami tidak mengenal merek mobil. Cinta kami tidak keberatan dengan sepeda. Cinta kami tidak kenal perhiasan. Cinta kami tidak kenal senggama sebelum semua disahkan. Cinta kami tidak mengenal cinta yang lain. Hanya kami. Tidak ada dia. Cinta kami cukup dengan saling tukar curi pandang dan senyuman malu. Cinta kami sesederhana itu. Cinta kami setulus itu. Cinta kami belum terucap, tapi molekul air saksi kami pun sudah tahu. Kami jatuh cinta.
Tanpa Titik aku koma.
Tanpa Titik kalimatku tidak pernah berakhir.
Tanpa Titik cinta kami menggantung tidak ada yang melanjutkan.
Karena hanya Titik yang bisa.
Cuma Titik.
Titik-ku. Jangan pernah kau menjadi Titik untuk malaikat di Surga. Jangan kau lengkapi kalimat lain. Jangan. Karena aku tidak akan pernah bisa mengejarmu untuk memintamu kembali menjadi pelengkapku lagi. Kini kalimatku akan selalu menggantung. Tidak pernah selesai
Tidak pernah selesai
Titik tidak pernah sampai ke kampus untuk kuliah tambahan. Ia lulus.
Lulus dari kehidupan tepat di hadapanku
Tepat dipelukanku
Cinta kami yang sederhana memang tidak cocok dengan mobil. Cinta kami yang sederhana tidak cocok dengan jalan raya. Cinta kami yang sederhana yang belum sempat terucap.
Cinta kami sederhana dan kalimatku tidak akan pernah selesai setelahnya
Hanya Titik yang bisa

2.8.12

"Suatu hari, iman saya pasti tidak kuat."
Saya mengrenyitkan dahi. Menatap matamu dalam-dalam, mencari apa yang menjadi tujuan mu ketika tiba-tiba menlontarkan kalimat itu pada saya.
"Karena apa?"
Kamu menggeleng sembari menggedikkan bahumu.
"Entahlah, aku boleh minta tolong?"
Sekali lagi,
saya mengrenyitkan dahi. Ada apa dengan mu?
"Tolong, jika aku mengajakmu bercinta. Tendang saja..."
Saya tersenyum, apa yang sedang terjadi dalam pikiran mu? Ada apa dengan libido mu? Malam itu menjadi lebih hangat dari biasanya. Entah karena apa. Mungkin karena tiba-tiba ada yang sejujur itu kepada saya. Sudah telanjangkah aku di dalam pikiranmu saat ini? Sedang apakah kita di dalam khayalanmu kini?
"Tergantung."
"Kenapa kamu tiba-tiba bilang gitu?"
"Entahlah...dalam diriku sebenernya ada keinginan bercinta denganmu"
"Keinginan kamu manusiawi sekali. untung bukan keinginan membunuhku"
"Hahaha."
Tawamu renyah. Tawamu merdu mengalun kedalam gendang telingaku memenuhi pikiranku. Tawa yang selalu aku suka. Diikuti cengiran khasmu.
"Kamu ingin bercinta denganku?"
Kamu mengajukan pertanyaan yang tidak bisa dijawab begitu saja. Itu bukan sekadar pertanyaan, "Mau kah kamu makan siang bersama denganku?" pertanyaan ini tidak perlu terucap. Kata-kata bukan kata yang tepat.
"Haruskah aku menjawabnya?"
"Maybe"
"Kamu tidak benar benar ingin tau jawabannya kan."
"Mungkin ketika aku berada bersamamu tidak perlu bertanya"
"Aku ini sangat liar.. dan kurang ajar. Makanya, tolong larang saya."
"Oh ya? kepada semua wanitakah?apa yang perlu saya larang? kamu tidak sebesar itu menginginkan saya."
"Hmmmm. Belum saja."
"Pembicaraan ini menarik."


rinduku..
cara mu membakar rokok mu
cara mu menyelipkan rokok dibibirmu
cara mu menjepitnya disela jemari mu
cara mu
menghembuskan aku