12.8.12

Ia

“Bisa kita bertemu malam ini?”
Hening terdengar di seberang sana. Mungkin ia sedang menimbang jawabannya. Mungkin juga hanya memandangi ujung sepatunya sambil menghisap rokok.
“Kalau tidak bisa, tidak apa.”
Masih hening.
“Maaf, sepertinya aku tidak bisa. Ada yang harus aku kerjakan.”
Ia sudah tahu jawaban ini yang akan Ia berikan. Ia tahu Ia tidak mungkin lagi meluangkan waktu untuk menemui ia hanya berdua. Ia tidak sakit hati. Ia tidak merasakan apa-apa. Bahkan ia tidak kecewa. Yang ia tahu, ia berdusta.
“Baiklah. Maaf sudah mengganggu. Selamat malam.”
Ia matikan sambungan telepon. Hanya tercenung memandangi tiket kereta api ditangan Ia. Tertanggal besok sore. Pemberangkatan ke Yogjakarta. Bukan kesana tujuan Ia. Ke tempat lain. Yogjakarta hanya persinggahan. Ia hanya ingin bertemu dengan Ia, agar Ia punya bekal wajahnya yang paling baru. Karena memori tentang Ia sudah mulai usang di kepalanya. Tetapi sudahlah, Ia sudah memutuskan bahwa Ia sudah tidak bisa bertemu muka dengannya hanya berdua. Pintu itu sudah Ia tutup untuk Ia. Ia terima. Apa daya Ia hanya bisa menuliskan sepucuk surat untuk Ia. Dan akan Ia titipkan pada teman mereka.

Ini bukan surat.
Ini sebuah pelukan. Dekap secarik kertas ini ke dadamu tekan dengan kedua lenganmu.
Ini saya, yang kamu peluk.
Ini bukan surat.
Ini sebuah ciuman. Tekan secarik kertas ini ke bibirmu.
Ini saya, yang kamu cium.
Ketika kamu menatap kertas ini, membaca kalimat yang tertulis tangan di dalamnya.
Adalah saya yang kamu tatap. Adalah saya yang tangannya kamu genggam.
Doakan saya. Mungkin kita akan bertemu lagi di suatu masa.
Atau mungkin kita berpapasan di suatu kota dan tidak menyadarinya.
Ingat satu hal. Sejauh apapun saya melangkah. Dengan siapapun saya berada.
Hati saya masih untuk kamu. Jika kamu lupa. Buka surat ini.

-Saya.

Ia lipat rapi kertas itu. Memasukkannya ke dalam sebuah ID Card. Bukan, bukan amplop. ID Card sebuah acara tempat mereka pertama bertemu. Tempat Ia mengenal Ia dan mencintai Ia. Tempat semua bermula dan tak pernah benar-benar berakhir bagi Ia. Tidak perlu ada yang tahu bagaimana Ia ketika menerima paket terakhir yang Ia berikan. Ia sendiripun tidak mau tahu akan jadi apa surat darinya. Dibakar? Diludahi? Tidak ada yang tahu.
Yang Ia tahu, apa yang telah Ia tulis adalah sebuah kejujuran paling jujur yang pernah Ia lakukan sepanjang hidupnya.



No comments:

Post a Comment