21.1.13

Kabut asap pada dada.


Pertanyaanku hanya satu, Pen. Kenapa kamu harus manis sekali? Ya aku menghitung berapa banyak kangen di suratmu, dan aku mengukir senyummu pula kala kamu mengucapkan itu. Sisa-sisa kenangan tentang kamu di kepalaku. Tak usang, cuma sudah cukup pudar. Namun bukan berarti cintaku padamu berhenti berpendar.
Duh, kamu, jangan sampai kamu terlambat makan loh. Ingat kamu punya maag, aku tidak bisa membayangkan jika kamu harus jatuh sakit dan aku tidak bisa ada di sebelahmu saat itu terjadi. Ku mohon, walaupun terik setidaknya jangan sampai kamu melalaikan makanmu ya.

Astaga, aku terdengar seperti ibu-ibu sekarang.

Satu hal yang kamu perlu tahu, matamu ketika kamu menghisap tarikan rokok pertama dan menghembuskan asapnya, adalah sebuah gambaran tentang indah bagiku. Kini dan nanti. Aku masih memutar ulang film yang sama di dalam kepalaku, dan aku tidak sabar untuk kembali melalui waktu yang sama. Kamu dan aku. Entah di halaman belakang rumahmu, atau di sebuah beer house tempat kesukaanku di bilangan Selatan. Menghabiskan waktu lebih banyak bersamamu, tertawa dan tenggelam dalam pembicaraan tak habis-habisnya.

Hahaha. Aku pikir kamu kesal sekali jika aku menjawabmu dengan alis terangkat? Katamu wajahku akan berubah jadi ibu-ibu jutek di sinetron yang kamu benci? Tak kusangka itu yang kamu rindu. Aku heran, bagaimana bisa kamu sabar bertahan dengan aku selama ini dan tak berniat sedikit pun pergi dariku. Padahal aku sadar betul jika sedang bertengkar aku bisa sangat keras kepala dan menyebalkan. Terimakasih, kamu mencintai keburukanku, Pen. Tak pernah ada yang berhasil menghadapiku seperti kamu.

Sayang, kalau mau bicara pikiran-pikiran tak bertanggung jawab. Jangan kira aku tidak khawatir dengan kamu di sana. Aku tidak ada pada setiap harimu tidak seperti dulu. Aku tidak lagi bisa makan siang bersamamu, entah dengan siapa di sana kamu biasa menyantap makananmu pagi siang dan malam. Aku bahkan tak mengenal bagaimana lingkunganmu di sana. Hanya sedikit temanmu yang aku tahu. Sesungguhnya itu menggangguku. Hanya saja, ketika kita bercengkrama, rasanya aku lebih memilih menghabiskan waktu merindukan kamu daripada harus memulai sebuah pertengkaran atas kecemburuan tak berdasar. Aku percaya kamu tidak akan mengkhianati sebuah percaya yang telah kita bangun bersama sejak lama. Ya kan?

Tenang saja sayang, satu-satunya orang yang akan aku bakarkan rokoknya adalah kamu. Satu-satunya orang yang akan melihatku mencembungkan pipi ketika aku kesal hanya kamu. Cuma seorang kamu yang akan tahu bagaimana aku yang sesungguhnya. Biarlah mereka selalu melihatku sebagai pribadi ceria, tetapi denganmu. Bahkan aku ingin kamu mengenal hal tergelap dari diriku. Kamu adalah rumah, satu-satunya tempatku berpulang. Dan satu-satunya pelukan yang aku tahu tidak akan hilang.

Aku tidak pernah mencintai seseorang sebesar ini sebelumnya, entah apa yang kau lakukan padaku. Semua terasa benar. Pertengkaran tak pernah menjauhkan, tak kunjung pula mengecilkan rasa. Bahkan ketika jarak memisahkan kita. Tak ada ragu untuk menjalani segalanya bersamamu meski tak setiap waktu kita berdua. Ah, aku tidak pernah tahu. Mencintai seseorang bisa membuat aku jadi senaif ini.
Jangan meragukanku, jangan meragukan kita. Seperti halnya aku tak pernah sekalipun melakukan itu.

19.1.13

Simfoni tak bertuan.


Astaga! Pen. Hahaha. Aku mendadak langsung malu sendiri, pipiku panas. Aku masih ingat ciuman lembut cepat berirama Crescendo dan kita adalah sang pemimpin orkestra bagi rima bibir kita. Lalu sepersekian detik setelahnya, kakakku muncul. Ah aku harap ia tidak melihat itu karena aku tidak mau dia iri karena aku punya seseorang yang mampu menjelaskan nirwana hanya dengan lumatan bibirnya.
Aku mengingat semua hal yang pernah terjadi pada kita ketika kita masih menjejaki tanah yang sama sayang. Tunggu, bulan depan kamu libur. Dan kamu berjanji akan mampir ke rumahku. Aku benci kenyataan bahwa aku masih harus bertemu dengan aksara-aksara yang tak kunjung usai antara kita. Namun apalah daya, hanya ini satu-satunya cara kita berbicara selain Skype yang sangat jarang kita lakukan. Hanya di sini kita lebih jujur dari biasanya.
Jujur pada sebuah monolog, sebuah percakapan khayalan yang aku lakukan denganmu.

Malam ini aku menuliskan serangkaian kata ditemani nyanyian semesta. Hujan sedang riuh-riuhnya di luar, dan petir tak mau kalah saling sambar. Aku ingat suatu mendung beberapa hari sebelum keberangkatanmu ke kota itu, kamu demam tinggi, lalu aku merawatmu. Kamu tak mau aku tinggal bahkan hanya untuk ke toilet saja kamu merajuk. Aku masih ingat perasaan hangat yang menyusup, menyelinap ke dalam dadaku. Perasaan tentang tak ingin ditinggalkanmu. Dan malam itu, kita tertidur dalam pelukan dinyanyikan merdu hujan di luar rumahmu. Persis seperti malam ini. Hanya kurang kamunya saja.
Padahal aku sedang di rumah, tapi rasanya aku ingin pulang. Aku ingin melipat jarak yang memisahkan kotamu dan kotaku, kemudian menyulam doa untuk kujadikan kendaraan menuju pelukanmu.
Aku sering merasa hilang kala aku sangat lelah menjalani hari dan tidak bisa menemukanmu dekat denganku seperti biasa. Aku tidak bisa langsung menemuimu dan menyurukkan kepalaku dalam rengkuhanmu yang nyaman.
Ingat? Pernah suatu hari aku marah-marah seharian hingga kamu pun kesal denganku, dan kebiasaanmu. Semarah apapun kamu padaku, kamu tidak pernah berhenti memperhatikanku. Aku lupa kenapa aku saat itu, yang jelas paginya aku batuk dan kamu membawakanku obat batuk. Padahal saat itu kita belum berbaikan. Kamu masih kesal padaku. Kita baikan karena obat batuk, Pen. Pasangan mana yang seaneh kita? Dan aku bangga pasangan itu adalah kita. Pasanganku adalah kamu.
Sayang, aku tahu. Sunyi tak selamanya indah. Namun kadang, dengarkanlah nyanyian sunyi di gendang telingamu. Gending magis tentang kerinduan tak terperi. Kamu akan mengerti bahwa disini, rinduku pun menjerit sekeras sunyi.
Warna piyamamu? Tidak jauh dari abu-abu sayang. Tak jauh berbeda dengan warna dadaku saat ini. Tak berbeda dengan rundung mataku kala ini, ia bersiap hujan lagi, seperti di luar. Kamu adalah segala melodi di simfoni hidupku yang hilang, Pen. Kamu melengkapi rongga-rongga tak sempurna dalam hidupku, pun kamu, adalah doa-doa yang mengisi sela rintik hujan. Meski kini aku adalah simfoni tak bertuan, hingga nanti kau tiba lagi untuk sebuah pertemuan. Aku tak akan menghentikan melodi tak sempurnaku atas kamu. Hingga kamu melengkapiku lagi, sayang.
Pen.. Pintaku satu, jangan biarkan jengah merajah hatimu atas aku.

17.1.13

Oase rindu.

Hai, Pen...
Kamu memulai surat ini langsung dengan pancingan nostalgia. Nakal ya. Aku jadi merindukanmu lebih dari yang sudah ku lakukan.
Hari pertama kita bertemu? Bagaimana kumalnya aku sepulang kerja ditambah kehujanan pula ke acara teman kerjaku yang ternyata teman SMA kamu itu? Hahaha, aku hampir tidak mau ikut kau tahu? Kalau tidak karena ancamannya yang gila itu, kau tahu sendiri bagaimana dia kalau sudah punya mau. Keukeuh ceuk urang teh. Ya Tuhan, aku mengingat lagi rambutku yang lepek minta ampun saat itu. Hahaha. sungguh mengherankan kamu bisa jatuh cinta padaku hingga saat ini, Pen. Mungkin kamu gila? Hahaha.

Sial, kamu jauh saja membuatku tertawa hanya dengan sepenggal kenangan.
Oase kecil menggenang pada pelupuk mataku kini. Hal lucu tentang sebuah kenangan, terasa begitu dekat namun sebenarnya sudah lewat berapa masa dan hanya berputar-putar seperti sebuah piringan hitam usang pada kepala. Satu-satunya hal yang menyakitkan dari kamu adalah, aku hanya bisa merengkuhmu dalam kenanganku. Aku hanya bisa menghirup sisa-sisa aromamu yang tertinggal pada jaket yang ku bawa terakhir kali kita bertemu. Sudah, hanya sebatas itu. Cukup untuk persediaan hingga pertemuan berikutnya.

Kita sedang dalam perayaan, sayang, perayaan bersama melalui tarian aksara. Melalui kenangan-kenangan yang terajut indah di dalam masing-masing kepala, parade riuh hingga hati. Tentang hari-hari yang kita lalu, jalan-jalan di mana serpihan kita masih mengkristal jelas di tiap sudutnya. Kita sedang bersulang dengan cara kita sendiri sayang, menuang ingatan dalam gelas tinggi bernama penantian kemudian kita bersulang dengan udara. Menyesap, menikmati manis pada lidah dan tetap tinggal di sana hingga oase pelupuk mata kita tak lagi kecil dan runtuh. Manis menjadi terasa sedikit asin. Rasa laut yang memisahkan kita 100 Kilometer jauhnya.
Seandainya tangisku meluruhkan samudera, aku rela menguras air mata yang tersisa hingga waktu bertemu denganmu tiba, Pen. Sungguh.

Tidak sayang, ini bukan siksaan. Jangan begitu, nanti kamu malah terbeban dan ingin cepat-cepat mengakhiri jarak yang sebenarnya tak buruk-buruk amat ternyata. Walaupun aku harus menabung rindu lebih banyak, walaupun aku harus menangis lebih sering ketika malam-malam aku merindukanmu dan harus menguburkan kenyataan bahwa kamu tak dapat ku temukan nanti ketika pagi menyingsing. Tak ada kamu lagi yang merecoki cangkir kopiku karena milikmu sudah lebih dulu tandas. Tapi aku mencintai kamu dan jarak kita. Jarak adalah cara Tuhan mendekatkan kita, dan memperkenalkan tentang sebuah pelukan pun pertemuan yang jauh lebih indah dari biasanya. Jangan goyah ya sayang. Kita adalah pembenci pun pecinta jarak, antara kepalamu dan kepalaku mungkin sejauh arak-arak awan sepanjang samudera. Namun aku tahu, antara hati kita hanya berjarak ruang kosong pada jemari yang menunggu digenggam lagi pada waktunya.

Pen,
Kamu benar-benar menyebalkan. Aku merindukan kamu.
Aku sangat merindukan kamu sekarang.
Ah. Kamu menyebalkan.

15.1.13

Rindu Berbalas.

Hai, Pen.
Dasar puitisku yang satu ini. Tak pernah berubah sejak dulu. Selalu berhasil membuatku tersenyum sendiri. Ah, aku jadi rindu pada Ibu. Titip kecup hangat pada calon mertuaku, (Aamiin.)
Maaf aku terlambat membalas suratmu, pekerjaanku cukup padat akhir-akhir ini. Dan kabarku baik. Hatiku pun masih baik-baik saja. Meski terkadang jelang malam aku kerap bertanya apa yang selalu kau lakukan sepulang kerja kalau tidak sedang membalas suratku. Mata siapa yang ada dibalik kelopakmu ketika lelah sudah rebah di pelupukmu. Lengan siapa yang menyita khayalmu ketika guling kapuk usang tak lagi mampu mengalahkan rindu pada dekapan yang berdenyut.

Pen, entah sudah berapa lama kita kerap melakukan hal yang sama. Hanya saling curah lewat kata. Jarang bertatap muka, jarang berbagi pelukan mesra pun kecup pada kening menjelang senja. Terimakasih untuk tidak pernah sedikitpun meragukanku. Pun bagimu, terimakasih kamu sadar akan mahalnya percaya dan kau menjaganya dengan seluruh jiwa.

Aku tahu, Pen. Aku bukan satu-satunya hal indah yang semesta dapat tawarkan kepadamu. Masih banyak indah lain yang manisnya lebih dari setetes madu. Yang pesonanya seolah gambaran Nirwana. Tapi semoga, kamu tidak pernah berpaling dariku, meski aku tidak semahadaya yang kau inginkan. Aku ingin menjadi surga kecilmu di dunia.

Pen..
Aku tidak akan mengucapkan,"Aku masih mencintaimu." karena aku tidak pernah berhenti melakukannya sejak pertama hati kita rebah di genggaman yang sama.
Aku selalu mencintaimu, sayang.

14.1.13

Sajak selamat datang untuk A.R.

Selamat datang kembali, kamu yang pernah mendadak hilang ditelan ilalang.
Pertemuan di sebuah padang dan lontar kenyataan memaksamu beranjak pergi, 
meninggalkan aku sendiri termangu kemudian menangis hingga air mata kering berkali-kali.
Namun lihat, kamu seolah doa yang sudah aku lupa pernah rapalkan dan terkabul ketika ingatan telah memudar tentang malam-malam hambar yang sempat kujadikan jeritan inginku agar kamu kembali.
Kehilanganmu melahirkan pertanyaan-pertanyaan sebanyak bulir menderas jatuh di langit mataku yang mendadak berubah menjadi Musim Penghujan bulan Desember. Mendung dan basah.
Kehilanganmu sempat memintal doa di antara kematian senja dan kelahiran pagi. Pun adakala menghidupkan kenangan dan genggaman tangan sebelum kau pergi.
Lalu, kian lama aku makin terbiasa atas kehilanganmu. Bukan, aku tidak melupakanmu. Aku hanya belajar membiasakan diri dengan ketiadaanmu.
Aku belajar rasanya menahan hasrat mencarimu ketika aku tahu tak sedikitpun kau akan mengacuhkan aku.
Aku belajar berbesar hati menerima sebuah pergi yang tak akan kembali darimu.
Karena itu ku katakan, kamu adalah doa lama yang sempat ku lupa.
Kembali hadir sebagai keinginan yang tertunda.
Sebuah kembalimu, seolah melengkapi lagi potongan kecil yang sempat ku hapus kasar dari hidupku.
Sudah ya. Jangan pergi lagi.
Walau terkadang kita perlu sejenak menyingkir untuk memahami rasa. Ku harap, kau tidak akan lenyap.
Sekali saja tanpamu. Sekali saja.


Welcome back, honey.

13.1.13

Mozaik Sepagian

Jika apa yang mereka sebut rumah tak lagi dapat kau sebut rumah. Akan ke mana kau melarikan tubuhmu yang lelah? Akan kemana kepala-kepala pening atas segala terpaan hidup kau rebahkan?
Kamu adalah manusia dengan segala bentuk kekurangannya. Lengkap dengan rasa tidak aman yang kerap menghantui. Hati patah namun tak pernah menyatu tapi seolah ia bangkit lagi. Lalu akan pulang ke mana ia jika pelukan ramah tak di temukan dalam sebuah rumah?
Rumah adalah rimba yang lain. Rimba kecil dibandingkan liar kejam kota-kota yang kau tempati. Rumah adalah kolam kecil yang kau kenal setiap jengkal seluknya sebelum kau merenangi kolam yang lebih luas, yang kini kau pikir duniamu. Padahal, kau tak lebih dari penghuni rimba dan kolam kecil tempatmu beranjak tua. Bukan dewasa. Pilihanmu. Mau jadi apa ketika kau beranjak kelak. Kau akan berkubang di kolam kecilmu sekali lagi, menuakan manusia lain. Memapas rimbamu, membuat gubuk dan perapian, tinggal sekali lagi di sana, kali ini dengan atau tanpa manusia yang harus beranjak menua. Siklus riil.
Kalau menurut sebagian orang setan ada di sela buih bir. Ku rasa mereka belum pernah merasakan getir yang sungguhnya akrab dengan kecap rasa setiap harinya, setiap detiknya, setiap tarikan nafas dalam degup berima pertanda nyawa masih ada pada rongga raga. Mungkin mereka telah mencoba sekecap dua kecap, memutuskan tidak suka karena pada dasarnya hidup mereka lebih pahit dari apa yang mereka rasa di lidah. Mereka memilih tidak suka, tapi mencaci maki di dalam kepala. Mereka memilih tidak mengakui dan bersembunyi pada topeng paling murah semesta, senyuman.
Bicara setan, ia ada di bilik-bilik kepalamu, menyelinap di dalam sel-sel otakmu. Menanti waktu yang tepat menggelapkan secercah sinar yang tersisa pada kepala semuram langit Januari kali ini. Mengancam hati rapuh yang tertatih percaya kemudian patah lagi dalam hitungan kerling mata jahanam setan dalam sekejap saja. Padam.
Bagi sebagian orang, bahagia ada di dalam bir yang baru di buka. Atas buih riuh reda pada leher botol-botol dengan denting akrab pada gendang telinga. Dendang dengan ceritanya sendiri-sendiri, saling berbagi dalam sunyi. Asap-asap terhembus dari bibir-bibir dengan kisah masing-masing, yang lebih memilih dijejali tawa daripada kisah-kisah getir dan kejam tentang dunia.
Tuhan ada di dalam bir. Malaikat berpesta di buih-buihnya. Aku bergelayut di leher botol, menikmati diriku sendiri. Persetan dengan kalian.
Pagi ini tak ada bir, tak ada kopi, tak ada teh yang ada hanya susu. Pagi ini tak ada nasi goreng buatan ibu, setangkup roti keju atau bubur ayam gerobak depan rumah. Pagi ini hanya ada susu.
Pagi ini ada yang sedang meratap kaus kakinya masih basah. Sepatunya pun. Seragamnya masih basah, padahal ia harus sekolah. Lupa ambil laundryan baju padahal mau berangkat ke kampus. Merutuki hujan, yang membuat tidurnya makin pulas hingga ia bangun kesiangan. Ada yang seharusnya berangkat ke bandara sejak berjam-jam yang lalu. Ada pun telah duduk manis menanti penerbangannya di Boarding Room. Sementara yang lain mengecek ulang barang untuk flight nanti sore menjelang petang. Sepagian ini, entah ada berapa tangis yang pecah karena berbagai macam hal yang ada dalam kotak semesta. Pun tawa yang tergelak, kelakar untuk mengawali hari hingga bagaimana akhirnya nanti. Ada pula yang mengelus dada pagi buta sudah memuntahkan cacian dan serapah.
Hujan cukup deras turun pagi ini. Mengiringi doa-doa baik dalam memulai hari.
Mengamini permohonan-permohonan hati yang diam-diam terucap dalam kuluman senyum termanis.
Membelai hati yang menangis namun tetap bertopengkan senyum termagis. Karena ia lupa sesekali jatuh sesenggukan tak apa. Dan sesekali melupakan cara seolah lupa menangis yang selama ini tertanam pada kepala.
Hujan cukup deras turun pagi ini. Meluruhkan luka yang tertoreh tengah malam buta hingga menjelang pagi. Cukup deras untuk menyamarkan bekasnya. Cukup deras untuk membasahi tetes darah dari sobekan perih lama dan kembali dengan topeng lama. Milikku, milikmu pun.
Topeng senyuman. Lakon-lakon kebahagiaan.
Selamat pagi pelaku sandiwara semesta. Selamat berperan sebagaimana mestinya.

­

12.1.13

Mozaik-mozaik teracak.


I.
Aku menghindari pulang karena aku tahu. Tidak pernah ada pulang.
Adanya hanya kubus bersemen dengan seperangkat perabotan dan cinta dingin di kulkas.
Makian tersaji hangat di atas meja makan.
Serta ranjang berduri berselimut tatap tajam mencabik lebam.
Tak ada pulang bagi sebagian orang. Yang ada hanya bangunan dengan jendela dan pintu. Yang tak bisa terbuka untuk keluar menyelamatkan diri, pun yang tak bisa disinggahi burung warna warni.
Hanya neraka kecil yang di kurungi. Dan dipercantik di sana-sini.

II.
Amarah sedang bergolak bak ombak pasang pada dada kecil yang berusaha tabah
Ia mencabuti satu-satu bulu-bulu pada malaikat yang menghampirinya
Menyiram cat hitam pada langit senja yang sedang merona manja
Melemparkan seonggok lumpur pada awan hingga ia lebam.
Menoreh luka hingga kelam melolong sembilu. Sengaja agar langit menangis tersedu.
Ia tak peduli, Ia sedang berbaik hati. Berbagi luka dan lara. Agar ia tak merasa keras kepala, tersakiti sendiri.

6.1.13

Malaikat.

Ibu bilang ia bukan malaikat. Di sela matanya yang menatap sendu terhunus pada tanah.
Ibu bilang ia tak kuat. Sabitan luka terus menerjang tubuhnya yang menua.
Anaknya bilang ibunya malaikat. Ia hadir di bumi sebagai pengingat bahwa terkadang malaikat tak butuh jubah putih, hanya daster rumah. sesekali celana dan kemeja.
Tak butuh sayap, hanya sepasang tangan.
Tak selalu bertelanjang kaki. Kadang pakai sepatu hak tinggi.
Tak disinari cahaya sekeliling tubuhnya. Tapi jelas sinar terpantul dari matanya.
Anaknya bilang ibunya malaikat.
Malaikat perang bagi hidup yang garang.
Ibu bilang ia bukan malaikat.
Aku rasa... Tak ada malaikat yang sadar diri.






Lalu, ayah bagaimana?

3.1.13

Mozaik Empat.

Alkisah seekor anak macan betina.
Ingin melangkah memasuki kejamnya rimba.
Ia sedikit banyak mencari celah, tapi ia lupa.
Sekeras apapun ia berusaha,
Pagar ibunda berdiri kokoh mengelilinginya.
Dan ia, muak.

2.1.13

Mozaik Tiga.

I.
Asaku padamu sudah terlalu besar
Sebentar lagi akan menghancurkan akal dan pikiran
Aku tak akan menuntutmu bertanggung jawab atas apa yang terjadi
Seutuhnya pilihanku
Untuk mencintai pun ketika aku harus tersakiti
Jika tersakiti adalah bagian dari mencintaimu
Maka aku akan dengan suka hati menikmati
Meski lara menciumi hati
Meski air mata menari di pipi
Aku akan selalu mencintaimu
Cintaku tak bernalar pun bernaluri
Aku lelah membatasi diri
Yang aku ketahui saat ini adalah aku sedang mencintaimu.
Sepenuh asa. Sedalam rasa.

II.
Ini tentang menunggu
Meski hanya bertemu denganmu.
Ini tentang menunggu kamu dan kesabaranku
Percayalah, aku bukan orang paling sabar di seluruh dunia.
Apalagi rindu sudah memuncak di dada.
Aku rela menunggu kamu karena kamu ada di sana sebagai tujuanku.
Labuhan lenganku.


III.

Aku adalah awan kelabu yang terlihat sendu
Meneduhkan kamu yang bernaung dibawahku
Memperhatikan tiap gerak gerikmu
Pun tawamu
Yang bergema, bukan bersamaku.

Aku adalah rumah berdinding pecah
Sudah terlalu lama tak ada yang singgah.
Bertamu pun hanya selewat saja
Aku tak pernah membiarkan mereka tinggal terlalu lama
Aku takut disakiti
Selalu seperti itu
Makin lama aku takut aku akan semakin dijarah
Dijarah amarah.

IV.
Namamu sudah jadi milik otakku
Tak ayal juga tinggal di hatiku.
Aku mencintaimu dalam-dalam.
Hingga aku tenggelam.
Ketika kau memutuskan untuk tak mau tinggal diam.
Aku perlahan membunuh hati dalam kelam.

V.
Sajak-sajak manis berbalut mimpi
Ada kamu yang membasuh diri di air mataku
Cinta telah ternodai pun terbohongi
Tetapi aku tetap tak lari dan masih mencintaimu





Pantikan pertama.

Ada sebuah seni di dalam api pertama yang kau pantik sebelum rokokmu terbakar.
Sebelum kau hisap asap pertama yang akan langsung kau hembuskan.
Ada kagum seseorang disetiap pantikan pertama yang terpercik.
Terpancar di mata kemudian dada.
Kemudian seolah kau bakar sumbu kembang api. Ia akan meledak.
Matamu tertuju pada satu titik. Ujung rokokmu. Tak kau hiraukan aku yang menatapmu.
Kau sejenak abaikan aku. Tapi aku tidak keberatan.
Ada surga kecil di caramu membakar gulungan tembakau itu.
Dan aku, selalu suka.

Aksaramu mematikan.

Entah apa yang aku pikirkan. Entah apa yang aku rasakan.
Aksara seharusnya hanya rentetan alfabet mati yang tak dapat menggerakan apapun dalam dada.
Harusnya aksara hanyalah sebuah aksara.
Tidak dapat membuatmu tersenyum.
Marah,
Menangis pun. Tapi ternyata semua sebatas ternyata. Aksara memiliki kekuatan yang lebih besar dari yang aku kira. Atau mungkin karena aku memang terlalu imajinatif hingga kapanpun aku membaca apa yang kau muntahkan dari kepala, seolah itu adalah titah raja. Seolah itu adalah kidung paling magis di alam semesta.
Aku tidak mengenalmu, hingga kini pun. Aku belum mengenalmu meski nama sudah saling simpan di kepala.
Tapi hidup yang aku jalani masih begitu. Tak berubah meski kamu telah perlahan menyelinap di antaranya.
Kamu adalah satu dari banyak pecahan manusia, tak sengaja masuk. Tak berencana ambil andil.
Meski kamu kini jadi berarti.
Aku jatuh cinta padamu melalui aksaramu. Pemikiran-pemikiranmu. Sabda-sabda seolah doa yang terucap dari bibirmu yang candu.
Entah kamu ini siapa? Asalmu darimana, hidupmu seperti apa. Tapi mendadak semua tidak penting ketika kata-kata mulai kau curahkan, ketika kamu mulai berbicara.
Berbicara tentang apa saja. Tuhan bersuara melalui mulutmu. Setidaknya itu yang ada di dalam pikiranku. Tapi apalah, kau tahu. Pikiran itu semata dapat menjebakmu sendiri. Mencari pembenaran sendiri atas apapun yang kamu masalahkan di dalam kepala.
Tapi entah, Tuan.
Kamu berhasil menitikkan air mata. Bahkan ketika kamu tidak bersuara. Bahkan ketika kita tak bertatap muka.
Tak hanya kamu yang candu, aksaramu pun begitu.