12.1.13

Mozaik-mozaik teracak.


I.
Aku menghindari pulang karena aku tahu. Tidak pernah ada pulang.
Adanya hanya kubus bersemen dengan seperangkat perabotan dan cinta dingin di kulkas.
Makian tersaji hangat di atas meja makan.
Serta ranjang berduri berselimut tatap tajam mencabik lebam.
Tak ada pulang bagi sebagian orang. Yang ada hanya bangunan dengan jendela dan pintu. Yang tak bisa terbuka untuk keluar menyelamatkan diri, pun yang tak bisa disinggahi burung warna warni.
Hanya neraka kecil yang di kurungi. Dan dipercantik di sana-sini.

II.
Amarah sedang bergolak bak ombak pasang pada dada kecil yang berusaha tabah
Ia mencabuti satu-satu bulu-bulu pada malaikat yang menghampirinya
Menyiram cat hitam pada langit senja yang sedang merona manja
Melemparkan seonggok lumpur pada awan hingga ia lebam.
Menoreh luka hingga kelam melolong sembilu. Sengaja agar langit menangis tersedu.
Ia tak peduli, Ia sedang berbaik hati. Berbagi luka dan lara. Agar ia tak merasa keras kepala, tersakiti sendiri.

No comments:

Post a Comment