2.8.12

"Suatu hari, iman saya pasti tidak kuat."
Saya mengrenyitkan dahi. Menatap matamu dalam-dalam, mencari apa yang menjadi tujuan mu ketika tiba-tiba menlontarkan kalimat itu pada saya.
"Karena apa?"
Kamu menggeleng sembari menggedikkan bahumu.
"Entahlah, aku boleh minta tolong?"
Sekali lagi,
saya mengrenyitkan dahi. Ada apa dengan mu?
"Tolong, jika aku mengajakmu bercinta. Tendang saja..."
Saya tersenyum, apa yang sedang terjadi dalam pikiran mu? Ada apa dengan libido mu? Malam itu menjadi lebih hangat dari biasanya. Entah karena apa. Mungkin karena tiba-tiba ada yang sejujur itu kepada saya. Sudah telanjangkah aku di dalam pikiranmu saat ini? Sedang apakah kita di dalam khayalanmu kini?
"Tergantung."
"Kenapa kamu tiba-tiba bilang gitu?"
"Entahlah...dalam diriku sebenernya ada keinginan bercinta denganmu"
"Keinginan kamu manusiawi sekali. untung bukan keinginan membunuhku"
"Hahaha."
Tawamu renyah. Tawamu merdu mengalun kedalam gendang telingaku memenuhi pikiranku. Tawa yang selalu aku suka. Diikuti cengiran khasmu.
"Kamu ingin bercinta denganku?"
Kamu mengajukan pertanyaan yang tidak bisa dijawab begitu saja. Itu bukan sekadar pertanyaan, "Mau kah kamu makan siang bersama denganku?" pertanyaan ini tidak perlu terucap. Kata-kata bukan kata yang tepat.
"Haruskah aku menjawabnya?"
"Maybe"
"Kamu tidak benar benar ingin tau jawabannya kan."
"Mungkin ketika aku berada bersamamu tidak perlu bertanya"
"Aku ini sangat liar.. dan kurang ajar. Makanya, tolong larang saya."
"Oh ya? kepada semua wanitakah?apa yang perlu saya larang? kamu tidak sebesar itu menginginkan saya."
"Hmmmm. Belum saja."
"Pembicaraan ini menarik."

No comments:

Post a Comment