16.12.12

Sajak tiba-tiba

Langkah menjejak di ranah bumi tua
Naung awan menyertai setiap tapak kaki
Sejauh apapun Tuhan menuntunku pergi
Kau yang selalu ingin ku temukan di ujung hari.

Aku hanyalah segelintir manusia yang mengagumimu dari mayapada.
Tak sanggup menjangkaumu yang menebar batas sejauh nirwana.

Jutaan senja telah terlewat sejak kita retak
Entah sudah berapa hujan pula berinai membisikkan kisah kita lirih
Di antara cangkir kopi yang kini hanya seorang diri.

Ceceran aksara kutebar pada langit semesta
Kutitipkan bisik cerita pada telinga sang surya
Isinya tetap sama, pesan rindu pun cinta untuk kamu di sana.



Langit Denpasar hingga Jakarta.
2012.

No comments:

Post a Comment